▶JANGAN TINGGALKAN SHOLAT WITIR*
Ikhwanifillah rahimaniyyallohu wa iyyakum,..
Shalat witir termasuk shalat sunnath yang di tekankan dan paling utama dari sholat sunnah yg lainnya.
Ketinggian kedudukannya mengalahkan harga kekayaan termahal yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ أَمَدَّكُمْ بِصَلاَةٍ هِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ الْوِتْرُ جَعَلَهُ اللَّهُ لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى أَنْ يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menambah bagi kalian shalat yang lebih baik bagi kalian ketimbang memiliki onta merah, yaitu shalat witir.
Allah Azza wa Jalla meletakkannya antara shalat Isya` sampai terbitnya fajar [HR. at-Tirmidzi]
Ulama telah sepakat bahwa hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan).
Sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya, walaupun beliau sedang dalam safar (bepergian). Berbeda dengan shalat-shalat sunnat lainnya (selain 2 rakaat sebelum shalat Subuh), beliau Shallallohu alaihi wassalam tinggalkan(tidak mengerjakannya di kala safar).
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Saat safar, beliau sangat memelihara pelaksanaan shalat sunnat Fajar dan witir melebihi seluruh shalat sunnat. Dalam riwayat safar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada yang menyebutkan beliau mengerjakan shalat sunnat rawatib..”
[Zâdul Ma’âd/1:315]
Begitu tingginya keutamaan shalat witir sampai-sampai Ulama mengeluarkan komentar miring bagi orang yang sengaja atau kerap meninggalkannya.
Imam Syafi’i rahimahullah dalam al-Umm (1/125) berkata: “Shalat sunnat sebagian lebih ditekankan daripada shalat sunnat lainnya. Yang paling ditekankan adalah shalat witir yang juga disebut shalat tahajud. Kemudian dua rakaat sebelum Subuh. Saya tidak mentoleransi seorang Muslim yang meninggalkan salah satu dari keduanya, meski aku tidak mewajibkannya. Barang siapa meninggalkan salah satu dari keduanya, ia lebih buruk daripada orang yang meninggalkan seluruh shalat sunnat (selain keduanya)”.
Imam Ahmad rahimahullah meskipun tidak memandang witir hukumnya wajib, namun beliau berkata:
مَنْ تَرَكَ الْوِتْرَ عَمْداً فَهُوَ رَجُلُ سُوءٍ وَلاَ يَنْبَغِيْ أَنْ تُقْبَلَ لَهُ شَهَادَتُهُ
Siapa yang sengaja meninggalkan shalat witir, ia adalah orang jelek dan persaksiannya tidak diterima.(al-Murûah wa Khawârimuha, Masyhûr Hasan Salmân hlm. 88)
Demikian komentar dari dua Ulama besar Islam. Akan sangat rugi jika seorang Muslim mengesampingkan perkara yang dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menaruh perhatian kepadanya. Sehingga pantas jika Syaikh Masyhûr mengkategorikannya sebagai salah satu faktor yang merusak kehormatan seseorang.
.(al-Murûah wa Khawârimuha, Masyhûr Hasan Salmân hlm. 88)
Adapun Waktu pelaksanaannya,
Boleh mengerjakan shalat Witir setelah shalat 'Isya' hingga terbit fajar.
Sedangkan pada sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling utama.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat witir pada setiap bagian malam, baik di awal waktu, pertengahan, ataupun akhir malam. Shalat Witir beliau selesai di waktu sahur.” (HR.Bukhari dan muslim)
Disunnahkan menyegerakan shalat witir pada awal malam bagi yang takut tidak bisa bangun pada akhir malam. Sebagaimana disunnahkan mengakhirkannya pada akhir malam bagi yang merasa yakin akan bangun di akhir malam.
Bilangan raka’at shalat witir paling sedikit adalah satu raka’at.
Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَـى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى.
“Shalat malam itu dikerjakan dua raka’at dua raka’at. Jika salah seorang di antara kalian khawatir akan masuk waktu Shubuh, maka hendaklah ia berwitir dengan satu raka’at sebagai penutup bagi shalat yang telah dikerjakan.”(HR.Bukhari dan muslim)
Dan boleh berwitir dengan tiga, lima, tujuh, atau sembilan raka’at.
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah shalat lebih dari sebelas raka’at, baik pada bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Beliau shalat empat raka’at. Janganlah engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat raka’at lagi. Dan jangan engkau tanyakan tentang baik dan panjangnya. Setelah itu beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm shalat tiga raka’at.” (HR.Bukhari dan muslim)
Dalam riwayat yg lain,
Juga dari ‘Aisyah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat malam sebanyak tiga belas raka’at. Beliau berwitir dengan lima raka’at dan tidak duduk kecuali pada raka’at terakhir.” (HR.Muslim)
Karna tingginya kedudukan sholat witir, maka seharusnya kita hidupkan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang satu ini(yaitu sholat witir), walau hanya mengerjakan rakaat yang paling sedikit, (satu rakaat saja).
Semoga Allah Azza wa jal senantiasa memberikan taufik dan kemudahan untuk kita melaksanakan semua hal yang mendatangkan cinta dan keridhoan_Nya.
Allahumma Aamiin.
Akhukum fillah...
Fajrin Abu Yahya Hafidzahulloh...✍

Tidak ada komentar:
Posting Komentar